Syncore Indonesia berkolaborasi dengan Bumdes.id by Meravi.id kembali hadir dalam penguatan kapasitas Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) di wilayah DIY. Pada Rabu, 20 Mei 2026, Syncore Indonesia hadir sebagai narasumber dalam mendampingi pelaksanaan Reformasi Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan yang diadakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Daerah Istimewa Yogyakarta di Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini menjadi ruang bagi Syncore Indonesia untuk membagikan strategi pengembangan jejaring usaha berbasis pada potensi lokal kepada para pengurus BUMKal Tamanmartani.
BUMKal Tamanmartani mencatatkan perkembangan yang patut diapresiasi. Dalam kurun waktu tiga tahun, BUMKal ini berhasil naik dari status pemula menjadi status maju. Sebuah kenaikan pemeringkatan yang terbilang cepat dan menunjukkan bahwa pengelolaan di tingkat kalurahan ini memang serius. Saat ini, BUMKal Tamanmartani memiliki beberapa unit usaha, seperti penyediaan internet desa, pengelolaan sampah, air mineral dalam kemasan (AMDK), dan wisata bumi perkemahan.
Unit usaha ini menariknya tidak dirancang sekadar di atas kertas, melainkan berangkat dari masalah nyata di masyarakat. Layanan internet desa hadir sebagai respons atas keresahan warga saat pandemi COVID-19, yaitu ketika kebutuhan pembelajaran daring melonjak sementara harga internet dinilai terlalu mahal. Unit pengelolaan sampah pun demikian, bermula dari persoalan overload sampah di lahan pertanian. Pendekatan inilah yang dalam konsep di Syncore Indonesia disebut sebagai strategi berbasis masalah, yaitu mengubah persoalan warga menjadi sebuah peluang usaha.
Dalam sesi pemaparan, narasumber dari Syncore Indonesia, Havri Ahsanul Fuad, S.Ak., M.Ak., menyampaikan strategi pengembangan jejaring usaha BUMKal berbasis potensi kalurahan. Havri menegaskan bahwa BUMKal sejatinya harus kembali pada cita-cita kemerdekaan Indonesia yaitu hadir untuk memajukan kesejahteraan umum melalui pengurangan pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan. Karena itu, BUMKal tidak boleh berdiri sekadar memenuhi regulasi atau ikut-ikutan, melainkan harus lahir dari kebutuhan dan potensi nyata yang ada di desa.
Havri menjelaskan bahwa langkah awal yang krusial adalah melakukan Pemetaan Bentang, sebuah metode pemetaan menyeluruh yang menganalisis potensi dan permasalahan desa dari lima dimensi: alam, sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi. Dari sinilah ide bisnis dirumuskan dan dikembangkan menjadi Business Model Canvas (BMC), lalu diuji kelayakannya sebelum dijalankan.
Lebih jauh, Havri menekankan pentingnya membangun jejaring usaha yang terstruktur. Jejaring ini tidak hanya mencakup pihak internal desa seperti kelompok tani, UMKM, dan karang taruna, tetapi juga meluas ke antar desa hingga pihak eksternal seperti perusahaan, perbankan, pemerintah daerah, dan marketplace. Kunci membangunnya, kata Havri, adalah mulai dari kebutuhan usaha yang nyata, bangun kepercayaan, tawarkan nilai yang jelas, lalu formalisasi melalui Memorandum of Understanding (MoU) atau perjanjian kerja sama.
Havri juga memberikan dua saran bagi BUMKal Tamanmartani. Pertama, membuat paket kunjungan wisata BUMKal sebagai cara memperkenalkan unit-unit usaha yang telah berjalan kepada publik yang lebih luas. Kedua, aktif mengikuti kompetisi-kompetisi BUMDes. Menurutnya, BUMKal Tamanmartani memiliki potensi yang layak untuk bersaing, karena apabila BUMKal semakin dikenal maka semakin mudah pula BUMKal menarik jejaring usaha dari luar, baik berupa mitra bisnis, investor, maupun peluang kolaborasi lainnya.
Melalui kegiatan ini, Syncore Indonesia mengingatkan bahwa penguatan ekonomi desa yang berkelanjutan dimulai dari bagaimana melihat masalah sebagai peluang dan membangun jejaring usaha yang terstruktur. Bersama BUMKal Tamanmartani, Syncore Indonesia dan Meravi.id terus berkomitmen menjadi mitra strategis dalam mewujudkan desa yang mandiri dan berdaya saing.